Daricerita dan jenis fabel, Bunda bisa mengajarkan nilai moral pada Si Kecil. Cerita fabel sudah sering menjadi cara menyisipkan kebaikan. Yuk simak Bun! Sebagai contoh, singa diberi watak yang ganas dan menjadi seorang pemimpin, sementara ular digambarkan dengan watak yang licik dan culas. Kemudian untuk latar yang digunakan pada fabel Hinggaakhirnya tiba giiran kelinci. Keluarga kelinci memilih kelinci tua di antara mereka, ia adalah kelinci yang bijaksana. Kelinci tua itu memutuskan untuk berangkat sendiri menemui singa. Singa mulai tidak sabar ketika melihat hewan datang. Kelinci kemudian pergi ke tempat singa saat matahari terbenam. Singa itu marah padanya. CeritaFabel Dongeng Si Kancil Dan Buaya. Meski selalu lolos dari kejaran buaya, namun lama-lama kancil merasa khawatir juga. Karena itu, ia pindah rumah ke daerah lain untuk menjauhi buaya. Ia tinggal dibawah sebuah pohon besar di hilir sungai. Awalnya buaya merasa bingung karena tidak melihat kancil di tempat biasanya. CeritaFabel "Kisah Persahabatan Singa dan Tikus". Andre Prima. 14 Comments. Lain-lain. Tuesday, December 7, 2021. Di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor singa perkasa yang semua makhluk lain sangat takut kepadanya. Raja hutan tersebut dikenal sangat mengerikan, tidak mengenal rasa takut dan dia merasa harus dihormati oleh semua makhluk 1 Dongeng Kancil, Gajah dan Langit Runtuh Di ceritakan kembali oleh: Shika Mustikawati. 2. Disuatu pagi yang indah, seperti biasa si kancil berjalan-jalan dihutan seorang diri. Dengan lahapnya si kancil sangat menikmati rerumputan hutan yang ada. 3. 2VMKceV. Kalau bicara tentang cerita fabel yang terkenal, salah satu cerita yang sangat populer adalah dongeng kancil dan buaya. Kancil dalam dunia cerita fabel dikenal sebagai hewan yang lincah dan cerdik. Seringkali ia menipu dan memperdaya hewan lainnya demi keuntungan dirinya sendiri. Adapun terkait seperti apa dongeng kancil dan buaya dalam cerita fabel, pada kesempatan kali ini kami akan bagikan informasi lengkap dan menariknya. Yuk simak dulu kisahnya dan ambil pelajaran dari cerita fabel ini! Di suatu hutan terdapat banyak hewan yang tinggal di sana, salah satunya ada seekor hewan lincah dan cerdik bernama kancil. Suatu hari yang terik, kancil merasa haus dan lapar karena sudah seharian ia tidak mendapat makanan. Alhasil ia merasa tubuhnya sangat lemas. Meski demikian kancil tetap berusaha menemukan makanan di sekitarnya hingga akhirnya ia tiba di sebuah sungai yang airnya cukup dalam dan arusnya pun cukup deras. Di seberang sungai, ia melihat terdapat tanaman mentimun yang sedang berbuah. Nah, tanaman mentimun tersebut adalah kesukaan kancil. Ia pun sangat gembira dan berniat segera menyeberangi sungai untuk mengambil mentimun yang disukainya itu. Kancil pun berpikir bagaimana caranya untuk menyeberangi sungai tersebut sementara dirinya tidak pandai berenang. Tiba – tiba datang seekor buaya yang menghadang dan berniat memakannya. Kancil pun mundur ketakutan namun rasa laparnya semakin menyiksa diri dan batinnya sehingga ia pun memanfaatkan buaya yang hendak menyerangnya tersebut. Kancil bertanya kepada buaya, “Kamu benar – benar ingin menyantapku buaya?” Buaya pun menjawab, “Iyalah, aku akan segera menyantapmu. Kamu adalah makanan lezat bagiku” “Berapa jumlah teman – temanmu buaya?, apakah kalian berjumlah banyak?” “Ya, kami berjumlah banyak” jawab buaya “Bagaimana kalau kalian membantuku. Kamu tahu bukan kalau dagingku masih kecil. Aku masih kurus, sungguh tak lezat rasanya jika kamu menyantapku sekarang. Bagaimana kalau kamu dan teman – temanku menyantap dagingku nanti ketika aku sudah makan banyak sehingga badanku gemuk. Setuju buaya?” Buaya pun mengangguk setuju dan mengumpulkan teman – temannya untuk membantu kancil menyeberang sungai. Buaya dan teman – temannya pun berbaris di sepanjang sungai dan kemudian kancil menyeberang di atasnya sambil berhitung. Akhirnya kancil pun tiba di lahan mentimun seberang sungai. Lalu ia berkata agar para buaya menunggunya dengan tenang sambil menyejukkan diri di dekat pepohonan yang cukup rindang. Buaya pun setuju. Sementara si kancil berkata kalau dirinya akan kembali ketika badannya sudah gemuk agar rombongan buaya bisa menyantapnya dengan lahap. Kancil pun berlari ke kebun mentimun dan meninggalkan buaya yang berangsur – angsur berusaha menepi untuk berteduh. Cukup lama buaya menunggu namun kancil tak kunjung datang. Hingga akhirnya buaya sadar bahwa dirinya dan teman – temannya sudah ditipu oleh kancil. Kancil tersebut tidak menepati janjinya dan pergi tanpa kabar begitu saja. Pelajaran yang bisa dipetik dari dongeng kancil dan buaya Ya, hal selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah apa pelajaran atau hikmah yang bisa kita ambil dari dongeng kancil dan buaya ini? Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah kancil dan buaya adalah dalam kehidupan manusia masalah pasti ada. Namun jangan sampai sebagai manusia kita hanya pasrah tanpa berusaha mengubah keadaan. Ketika terjadi masalah, berusahalah mencari solusinya karena tidak ada masalah tanpa solusi. Namun pastikan solusi yang diambil tidak menjatuhkan atau dengan cara menipu orang lain karena menipu orang lain hanya akan menambah musuh. Selain dongeng kancil dan buaya, ada cukup banyak cerita fabel lainnya yang menarik untuk dibaca. Salah satunya fabel tentang laba – laba penolong. Baca Fabel Laba Laba Penolong yang Baik Hati Baca juga Fabel Gajah dan Semut, Nasehat Tentang Menghargai Sesama Itulah sedikit cerita dongeng kancil dan buaya dalam cerita fabel yang paling terkenal. Semoga informasi yang kami bagikan di atas menjadi ulasan yang membawa manfaat. Ada banyak dongeng tentang persahabatan yang kisahnya menarik dan sarat pesan moral. Salah satu contohnya adalah dongeng Singa dan Zebra yang kisah serunya telah kami paparkan di artikel ini. Yuk, baca langsung saja! Kegiatan seru yang bisa kamu lakukan sebelum tidur adalah membaca dongeng singkat. Ada banyak cerita seru yang bisa kamu baca, salah satunya adalah dongeng Singa dan sudah pernah membaca dongeng yang mengajarkan pentingnya ketulusan dalam bersahabat itu? Kalau belum, secara singkat, dongeng hewan ini mengisahkan tentang persahabatan antara si Zebra dan menganggap Zebra sebagai sahabat sejatinya. Namun, Zebra justru bersikap sebaliknya. Lantas, konflik apakah yang terjadi dalam dongeng ini? Kalau penasaran, tak perlu berlama-lama lagi, langsung saja simak cerita dongeng Zebra dan Singa beserta ulasan seputar unsur intrinsik, fakta menarik, dan pesan moralnya di artikel ini, yuk!Dongeng Singa dan Zebra Alkisah, pada zaman dahulu, hiduplah seekor singa bernama Leo yang sangat bijak dan baik hati di sebuah hutan belantara. Tak seperti singa yang terkenal jahat dan sombong, ia justru baik kepada hewan-hewan lainnya. Itulah kenapa Leo terpilih menjadi Raja di hutan tersebut. Leo memiliki sahabat yang ia sangat sayangi, yaitu seekor zebra bernama Zio. Kapan pun Zio butuh bantuan, Leo selalu ada untuknya. Bagi si singa, zebra adalah sahabat terbaiknya. Namun, Zio tak beranggapan sama. Ia adalah zebra licik dan jahat. Selama ini, ia hanya memanfaatkan kebaikan Leo. Ia juga tak segan-segan menakut-nakuti hewan lain hanya karena ia bersahabat dengan Raja Hutan. Tak jarang, ia menjelek-jelekan Leo dan menganggap dirinyalah yang paling hebat di hutan. Zio memang semenyebalkan itu, tapi Leo selalu memaafkan sifat buruknya. Pada suatu pagi, Zio sedang memakan rumput seorang diri di padang pasir. “Hmm, rumput di sini memang selalu lezat. Aku sangat menyukainya,” ucapnya girang. Lalu, datangnlah seekor kelinci bernama Rubi menyapanya. “Hai, Zio. Tumben kau sendirian. Di mana sahabatmu Leo?” tanyanya. “Entahlah. Aku rasa dia sedang asyik tidur. Aku tak begitu peduli padanya,” ucap Zio. “Tak peduli? Bukankah dia sahabatmu?” tanya Rubi. “Hahaha, selama ini, dialah yang selalu mengikutiku dan menganggapku sebagai teman dekatnya. Kalau aku biasa saja. Bagiku, dia tak ada apa-apanya,” ucap Zio. Rubi tak kuasa mendengar ucapan sombong dari Zio. Namun, ia juga tak berani berkata apa-apa. Lalu, Rubi pun pergi menjauh dari zebra itu. Baca juga Cerita Dongeng tentang Persahabatan Harimau dan Serigala Beserta Ulasan Menariknya, Pengingat untuk Saling Menolong dengan Tulus Zio yang Tak Tahu Diri Setelah kenyang makan rumput, Zio pun berjalan-jalan untuk mencari kudapan lain. “Aku sudah kenyang makan rumput. Rasanya, aku jadi ingin makan buah,” ucapnya dalam hati. Lalu, ia mencari buah di seluruh penjuru hutan. Bertemulah ia dengan pohon apel dengan buahnya yang merah dan tampak manis. “Wah, buah apel itu tampak lezat. Tapi, bagaimana caraku memetiknya?” tanyanya dalam hati. Ia lalu mencari kayu di sekeliling pohon untuk memetik buah. Namun, tak ada satu pun yang bisa digunakan untuk meraih buah. Kemudian, Zio melihat seekor monyet sedang tidur di dahan pohon. “Wah, ada si Monyet. Dia bisa kusuruh mengumpulkan buah yang banyak,” ucapnya gembira. Zio menghentak-hentakkan kakinya di batang pohon apel untuk membangunkan si Monyet. Tak hanya terbangun, Monyet itu pun jatuh ke tanah. “Aduh! Siapa yang meggoyang-goyangkan pohon ini!” ucap Monyet sambil menahan sakit. “Heh! Enak sekali kau tidur melulu. Cepat petikkan aku buah apel yang banyak di pohon ini!” ucapnya tidak sopan. “Siapa kau berani-beraninya mengganggu tidurku dan menyuruhku!” bentak si Monyet. “Oh, rupanya kau tak tahu siapa aku! Kau tahu Leo si Raja Hutan?” tanya Zio. “Tentu saja aku tahu! Dia adalah Raja yang baik dan bijak,” ucap si Monyet. “Nah! Aku ini sahabatnya. Jika kau tak menurutiku, aku tak segan-segan meminta Leo untuk memakanmu! Kau mau jadi santapannya?” bentak Zio. “Kau pikir Leo akan melakukannya? Ia tak mungkin sejahat itu padaku,” ucap Monyet itu. “Hahaha, kau tak tahu, betapa Leo sangat lemah. Ia takut kepadaku dan apa pun perkataanku, ia akan menurutinya!” ucap Zio mengarang cerita. Monyet percaya dengan perkataan itu. Ia pun memanjat pohon apel dan memetik beberapa buah untuk Zio. Di bawah pohon, Zio menyantap buah apel itu dengan lahapnya. Mengelabui Binatang Lemah Setelah kenyang memakan apel, Zio pergi begitu saja tanpa mengucapkan rasa terima kasih. “Dasar Zebra menyebalkan! Bisa-bisanya Leo mau bersahabat dengannya,” ucap Monyet kesal. Karena kekenyangan, Zio pun tidur di bawah pohon yang rindang. “Hmm, lebih baik aku tidur dulu sebelum melanjutkan jalan-jalan,” ucap si Zio. Tanpa sengaja, seekor tikus menginjak ekor Zio hingga ia terbangun. “Aduh! Siapa yang menginjak ekorku!” teriaknya. “Ma… maafkan aku. Aku tak sengaja. Aku tak melihat ekormu. Sekali lagi aku minta maaf,” ucap si Tikus merasa bersalah. “Kau pikir minta maafmu itu bisa menyembuhkan rasa sakit di ekorku? Enak sekali kau bilang maaf!” bentak Zio marah. “La… Lalu apa yang harus aku lakukan untuk dapatkan maafmu?” tanya Tikus. “Hmm, mudah saja! Cepat ambilkan aku air di sungai. Aku haus ingin minum,” ucap Zio. “Tapi, bagaimana caraku mengambil air di sungai? Itu persyaratan yang sangat sulit,” ucap Tikus itu. “Kau bisa mengambilnya dengan daun. Sedikit-sedikit pun tak masalah, asalkan aku tak haus lagi. Kau tak mau? Kalau begitu aku akan menghukummu,” ucap Zio. Karena merasa takut, Tikus pun akhirnya mengambil sehelai daun dengan mulutnya dan membawanya ke dekat sungai yang tak jauh dari posisi Zio. Setelah mengambil air dengan daun, ia perlahan-lahan berjalan untuk menemui Zio. Begitu terus sampai lebih dar 10 kali. Sampai akhirnya, si Tikus pun kelelahan. “Apakah kau masih haus? Aku sudah tak punya tenaga,” ucap si Tikus dengan napas terengal-engal. Dengan santainya, Zio berkata, “Sebenarnya aku sedari tadi sudah tak haus. Jadi, tak masalah jika kau ingin berhenti dan kau sudah kumaafkan.” Begitu ucapnya sambil meninggalkan Tikus yang terkujur lemas. Ia tak menyangka ada seorang hewan yang setega itu mengerjainya. Tanpa disadari, ia pun menangis karena merasa lelah. Leo Mendapatkan Pengaduan Tentang Sahabatnya Ketika terkapar tak berdaya, datanglah Leo yang sedang berjalan-jalan mencari sahabatnya. Ia merasa kasihan melihat Tikus terbujur lemas. “Hai, Tikus. Kenapa kau tampak sangat lelah? Apa kau baik-baik saja?” tanya Leo. “Aku tak baik-baik saja, Leo. Ada seekor zebra yang mengerjaiku. Aku tak sengaja menginjak ekornya, tapi kenapa ia tega menyuruhku bolak-balik ke sungai untuk mengambilkannya seteguk air dengan wadah daun,” ucapnya lemas. “Apakah seekor zebra yang ia maksud si Zio? Kalau benar, aku tidak bisa diam saja,” ucap Leo dalam hati. Lalu, datanglah si Monyet yang memang sedang mencari Leo untuk mengadu. “Tuan Leo. Aku hendak mengatakan sesuatu tentang sahabatmu, Zio,” ucap Monyet. “Tadi ia membangunkanku dengan cara menendang batang pohon hingga aku terjatuh. Tak hanya itu, ia juga mengancamku. Katanya, kalau aku tak mamu memetik buah untuknya, ia akan mengadu padamu dan kamu akan memakanku. Aku yakin kau Raja yang bijak dan baik. Karena itu, aku ingin mengatakan sikap Zio kepadamu,” ucap Monyet. “Begitu rupanya. Kalau begitu, aku akan segera memberi nasihat pada Zio. Terimakasih atas infonya ya kawan-kawan. Aku juga meminta maaf pada kalian karena ulah sahabatku,” ucap Leo. “Kau tak perlu minta maaf. Dialah yang seharusnya memohon ampun pada kamu,” ucap Tikus dan Monyet. Baca juga Dongeng Beauty and the Beast Si Cantik dan Si Buruk Rupa Beserta Ulasannya, Cerita Seorang Putri Cantik Jelita yang Disekap Monster Jahat Zio Tak Mau Mendengarkan Leo Setelah mendengarkan keluhan dari Tikus dan Monyet, Leo bergegas untuk mencari sahabatnya. Tak lama kemudian, ia berhasil menemukan sang sahabat di dekat sungai jernih. “Zio, apa benar kau mengganggu para hewan di hutan ini?” tanya Leo. “Siapa yang mengatakannya? Aku tak pernah mengganggu siapa pun. Aku hanya meminta tolong kepada mereka,” ucap Zio tak merasa salah. “Tapi, aku dengar kau mengancam mereka bahwa aku tak segan-segan memakan hewan jika kau menyuruhku? Kenapa kau berpikiran seperti itu?” tanya Leo. “Sudahlah! Aku hanya bercada. Mereka saja yang percaya dan lantas takut dengan perkataanku. Salah sendiri mereka bodoh,” ucap Zio. “Hentikan perbuatanmu, Zio! Tak seharusnya kau memanfaatkan orang lain untuk kepentinganmu sendiri,” ucap Zio tak mau tahu. “Sudahlah, tak usah mengguruiku! Aku tahu mana yang baik untukku. Kau tak perlu ikut campur. Aku mau berendam di sungai ini. Jika kau tak mau ikut, pergilah!” ucap Zio mengusir. “Tunggu! Kau jangan asal berendam di sungai ini. Kau tak tahu apakah ada buaya di dalamnya atau tidak!” ucap Leo memberi peringatan. “Aku tak peduli. Aku hanya mau berendam di tengah terik matahari yang sangat panas ini. Berhentilah menasihatiku! Kau terdengar seperti singa tua,” ucap Zio sambil mencelupkan tubuhnya di dalam sungai. Leo hanya bisa mengalah. Ia cukup sedih mendapati sahabatnya tak mau mendengarkan nasihatnya. Lalu, ia pun meminum air dari tepi sungai. Seekor Buaya Menyerang Tak lama setelah Zio berendam, tiba-tiba ada seekor buaya yang menyerangnya. Zio lalu berteriak dengan sangat keras, “Tolong! Tolong aku! Leo!” Mendengar teriakan sahabatnya, Leo bergegas menyelami sungai. “Zio! Bertahanlah! Aku akan segera menolongmu!” teriak Leo sambil berenang ke arah Zio. Lalu, Leo menggigit ekor buaya. Mereka pun berkelahi di dalam sungai. “Lekas menepi dari sungai ini!” perintah Leo. “Tapi, bagaimana denganmu?” ucap Zio tak tega. “Tenanglah! Aku akan segera membereskannya,” ucap Leo sambil bertarung dengan buaya. Pertarungan itu berlangsung cukup lama dan sangat sengit. Untung saja, pada akhirnya, Leo berhasil mengalahkan si buaya. Ia lalu segera menepi dengan sedikit luka-luka di tubuhnya. Di tepi sungai, Zio menangis karena merasa bersalah dengan Leo. “Tak seharusnya aku mengabaikan nasihatmu. Seharusnya aku sedari awal mendengarkanmu, Leo. Maafkan aku,” ucap Zio sambil menangis. “Sudah. Tak perlu menangisi aku. Lihat kakimu. Kau bahkan terluka lebih parah dariku,” ucap Leo yang juga bersedih melihat kaki sahabatnya terluka parah. “Aku berjanji tidak akan mengganggu hewan-hewan lagi. Dan aku akan menuruti semua keinginanmu. Maafkan aku Leo. Huhuhu,” ucap Zio sambil menangis. “Iya, iya! Aku memaafkanmu Zio. Semoga kamu belajar dari kejadian buruk yang menimpamu ini, ya!” ucap Leo. Pada akhirnya, Zio pun meminta maaf pada hewan-hewan yang pernah ia kerjai. Lukanya pun berangsur-ansur sembuh. Namun, kakinya cacat seumur hidup. Ia tak bisa lagi berjalan dengan normal. Salah satu kakinya pincang. Meski demikian, Leo tetap mau bersahabat dengan Zio. Mereka pun bersahabat selamanya. Baca juga Cerita Dongeng Kakek Pemekar Bunga dari Jepang Beserta Ulasan Menariknya, Kisah Pengingat untuk Selalu Berbuat Baik dengan Ketulusan Unsur Intrinsik Usai membaca dongeng Singa dan Zebra di atas, lengkapi pengetahuanmu dengan membaca ulasan unsur intrinsiknya. Mulai dari tema hingga pesan moral, berikut ulasan singkatnya; 1. Tema Tema atau inti cerita dari dongeng Singa dan Zebra ini adalah tentang persahabatan. Seekor singa dengan tulus menjalin persahabatan dengan seekor zebra. Namun, zebra itu justru memanfaatkan kebaikan si singa. Pada akhirnya, ada kejadian buruk yang menimpa binatang berkulit hitam putih itu yang membuatnya tersadar dan bersikap baik pada si singa. 2. Tokoh dan Perwatakan Sesuai judulnya, ada dua tokoh utama dalam dongeng ini, yaitu si Singa bernama Leo dan Zebra bernama Zio. Berbeda dengan karakter pada umumnyanya, sifat singa dalam dongeng persahabatan singa dan zebra ini justru baik hati. Ia adalah pemimpin hutan yang bijak dan senang membantu hewan lain. Namun, kebaikannya itu justru dimanfaatkan oleh sahabatnya, Zio. Zio digambarkan sebagai sosok hewan licik yang memanfaatkan posisi sahabatnya sebagai pemimpin untuk menakut-nakuti hewan lain. Selain itu, ia juga beranggapan Leo adalah teman yang mudah untuk dibodohi. Tak hanya singa dan zebra, dongeng ini juga memiliki beberapa tokoh pendukung yang turut mewarnai jalannya cerita. Mereka adalah kelinci bernama Rubi, Monyet, dan Tikus. 3. Latar Bisakah kamu menebak di mana latar cerita dongeng persahabatan Singa dan Zebra ini? Tentunya ada beberapa lokasi yang disebutkan dalam dongeng ini. Secara garis besar, cerita ini terjadi di sebuah hutan belantara. Namun, lokasi detail, seperti nama hutan atau negaranya tak disebutkan secara detail. Secara spesifik, dongeng persahabatan singa dan zebra ini terjadi di beberapa tempat. Beberapa di antaranya adalah di padang rumput, bawah pohon apel, bawah pohon rindang, dan sungai. Baca juga Kisah Tukang Sepatu dan Liliput Beserta Ulasan Lengkapnya, Dongeng yang Mengajarkan Tentang Kebaikan dan Ketulusan Hati dalam Menolong Orang Lain 4. Alur Alur cerita dongeng Singa dan Zebra ini adalah maju alias progresif. Dongeng ini mengisahkan tentang seekor Raja Hutan bernama Leo yang mempunyai sifat baik hati dan gemar menolong. Namun, ia punya sahabat yang licik dan menyebalkan. Namanya adalah Zio, seekor zebra. Ia acapkali berbuat jahat kepada hewan-hewan di hutan. Tak hanya itu, dirinya juga kerap menjelek-jelekkan Leo di hadapan hewan lain. Pada saat bertemu Rubi, seekor kelinci, di padang rumput, Zio mengatakan bahwa Leo selalu mengikutinya. Padahal, ia sama sekali tak peduli pada singa itu. Di sisi lain, ia kerap membanggakan dirinya karena bersahabat dengan Raja Hutan untuk menakut-nakuti hewan lemah. Saat ingin makan buah, ia melihat seekor monyet sedang tertidur di atas dahan. Lalu, ia membangunkan si Monyet dengan cara menendang batang pohon hingga Monyet itu jatuh. Zio pun mengatakan bahwa dirinya adalah sahabat dari Raja Hutan dan memerintah Monyet untuk memetik buah apel untuk dirinya. Dengan sangat terpaksa Monyet itu menuruti perkataan Zio. Leo mendengar sifat-sifat buruk sahabatnya. Ia pun memberi nasihat padanya. Namun, Zio tak mau mendengarkan. Kejadian buruk pun menimpa Zio. Saat berendam di sungai, ada seekor buaya yang menggigit kakinya. Dengan cepat dan sigap, Leo langsung masuk ke sungai dan bertarung dengan buaya. Meski berujung penuh luka ringan, Leo berhasil memenangkan pertarungan. Zio merasa bersalah dan sangat berterimakasih pada Leo. Ia pun menyesal karena telah berbuat jahat pada hewan lain. Karena itu, dirinya meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya. Sejak saat itu, mereka pun bersahabat dengan baik. 5. Pesan Moral Apa pesan moral yang dapat kamu ambil berdasarkan cerita dongeng persahabatan Singa dan Zebra ini? Tentu ada beberapa pesan yang bisa kamu petik. Pesan utama adalah hargailah sahabatmu dan jangan memanfaatkan kebaikannya. Tak seharusnya Zio menghianati ketulusan yang Leo berikan padanya. Seharusnya, persahabatan itu saling menyayangi dan mengasihi, bukan sebaliknya. Jika saja Leo tak tulus, ia pasti sudah meninggalkan si Zio sejak lama. Namun, ia memilih tuk bertahan demi persahabatan. Nilai moral berikutnya yang bisa kamu petik adalah jangan pernah menggunakan relasi untuk menakuti orang lain. Zio dengan santainya menggunakan ikatan persahabatannya dengan sang Raja Hutan untuk menyuruh-nyuruh hewan lain. Ditambah lagi, Zio juga menuduh Leo akan menuruti segala permintaannya. Pada kenyataanya, Leo adalah pemimpin bijak yang tak mudah terpengaruh dengan hal buruk. Terakhir, setiap perbuatan buruk akan mendapatkan karma atau balasannya. Akibat dari segala perbuatannya, Zio mengalami kejadian buruk yang membuatnya tersadar dan mengakui setiap kesalahannya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam bertindak dan berucap. Jangan sampai sikap atau perkataanmu membuat orang lain sakit hati atau merugi. Selain unsur intrinsik, cerita dongeng ini juga ada unsur ekstrinsiknya. Di antaranya adalah nilai-nilai dari luar kisahnya yang mempengaruhi berlangsungnya jalannya cerita. Seperti, nilai sosial, budaya, dan moral. Baca juga Cerita Dongeng Nutcracker dan Raja Tikus Beserta Ulasan Menariknya, Petualangan Boneka Pemecah Kacang Melawan Tikus Berkepala Tujuh Fakta Menarik Nah, sebelum mengakhiri artikel ini, kurang lengkap rasanya kalau kamu belum membaca fakta menari dari dongeng Singa dan Zebra. Apakah itu? Berikut ulasan singkatnya; 1. Ada Versi Lain Pada umumnya, cerita dongeng memang memiliki beberapa versi cerita. Begitu pun dengan cerita dongeng Singa dan Zebra ini. Ada versi yang mengisahkan tentang seekor zebra yang iri pada kuda berwarna hitam. Ia pun ingin memiliki kulit berwarna hitam karena terlihat gagah. Lalu, ia meminta seekor jerapah untuk mengecat dirinya menjadi hitam. Awalnya, jerapah menolak. Namun, Zebra terus memaksa. Pada akhirnya, jerapah pun menuruti keinginan si Zebra. Tak lama setelahnya, kulit Zebra menjadi hitam dan ia sangat menyukainya. Ia pun memamerkannya pada sang ibu. Tentu saja sang ibu marah-marah. Ia menjelaskan bahwa warna kulit tiap hewan berbeda karena Tuhan menciptakan mahluknya dengan keunikannya masing-masing. Tak lama kemudian, banyak hewan berlarian. Rupanya, mereka menghindari serangan dari seekor singa. Zebra hitam sangat menarik perhatian si singa. Ia pun fokus mengejar Zebra hitam. Karena masih kecil, Zebra itu tak kuasa berlari dengan cepat. Alhasil, singa menerkam dan memakannya. Seandainya ia mensyukuri warna kulit dan tak mengubahnya menjadi hitam, mungkin ia masih bisa selamat. Baca juga Dongeng Frozen Beserta Ulasan Lengkapnya, Kisah Seorang Ratu Hebat dan Independen yang Berusaha Mengendalikan Kekuatannya Bagikan Cerita Dongeng Singa dan Zebra ke Teman-Temanmu Itulah tadi salah satu contoh cerita fabel dengan tema persahabatan beserta ulasan lengkapnya. Kisahnya sangat seru dan sarat akan pesan moral, kan? Yuk, kirimkan kisah seru tentang persahabatan ini kepada sahabat-sahabatmu. Kalau kamu pengen baca kisah lainnya, langsung saja kepoin kanal Ruang Pena. Ada banyak cerita yang bisa kamu pilih. Beberapa di antaranya adalah dongeng Iblis dengan Tiga Rambut Emas, kisah Tujuh Burung Gagak, cerita Gagak dan Kendi, serta masih banyak lagi. Selain dongeng, ada pula legenda-legenda Nusantara yang kisahnya tak kalah menarik. Misalnya saja seperti legenda Datu Pujung, asal usul Danau Batur, cerita rakyat Gunugn Merapi, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri. Fabel hewan menarik untuk disimak karena banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya. Salah satu yang populer adalah cerita tentang si kancil dan raksasa rakus seperti yang kami rangkum di artikel berikut. Simak, yuk!Kancil barangkali menjadi salah satu hewan yang fabelnya cukup populer dan tidak asing di telinga orang Indonesia. Banyak kisah yang mengusung sosok hewan cerdik tersebut, termasuk cerita tentang si kancil dan raksasa yang tentu sayang untuk kamu kamu belum pernah mendengar kisah kancil dan raksasa, kami punya rangkuman dongeng mengenai keduanya di artikel ini. Di sini, kami tidak hanya memaparkan kisah mereka, tetapi juga mengungkap pesan moral penting yang terkandung di tahu seperti apa penjelasan lengkapnya? Kalau begitu tak perlu berbasa-basi lagi, langsung saja kamu simak uraian cerita dongeng kancil dan raksasa beserta informasi menariknya di bawah ini! Baca sampai selesai dan renungkan kisahnya, ya. Sumber Facebook – Pada Zaman Dahulu Alkisah, di sebuah hutan hiduplah sesosok raksasa yang sangat ganas. Ia pemakan segala dan suka memburu hewan-hewan yang hidup di hutan. Tak heran jika hampir semua hewan ketakutan dan hanya bisa bersembunyi, tidak keluar dari tempat mereka karena khawatir jadi santapan raksasa. Pasalnya, sang raksasa tidak pandang bulu dalam memangsa. Ia bisa saja mengincar kambing, gajah, bahkan singa yang merupakan hewan buas dan raja hutan pun tidak luput dari incarannya. Keberadaan raksasa itu juga membuat populasi hewan di hutan semakin berkurang. Hal ini membuat para hewan khawatir dengan kelangsungan hidup mereka jika keturunannya mati dimangsa. Apa yang mesti mereka lakukan untuk mengalahkan sang raksasa? Baca juga Cerita Legenda Bunga Matahari dan Kisah Cinta Tak Terbalas Beserta Ulasannya! Perundingan dan Penyusunan Siasat Suatu hari, para hewan berunding untuk menyusun rencana melumpuhkan raksasa yang meneror hutan tempat tinggal mereka. Namun, saat menentukan siapa yang akan melawan sang raksasa, di antara mereka tidak ada yang berani. Di tengah-tengah diskusi, kancil menyela. Ia maju ke depan dan menyampaikan sepatah dua patah kata. “Wahai, teman-temanku. Aku tahu kalian merasa terancam. Akan tetapi kalau kita bersatu, kita bisa mengalahkan raksasa itu, tentu dengan diimbangi siasat yang jitu,” tuturnya. Setelah berkata demikian, kancil diam sejenak untuk memikirkan siasat. Lalu, seekor gajah berkata, “Cil, tolong beri kami petunjuk untuk melawan raksasa buas itu. Kalau tidak, kami semua bisa mati jadi makanannya sebelum sempat berkembang biak lagi.” Kancil pun langsung mengutarakan rencananya. “Aku akan menemui raksasa. Hai burung beo, aku ingin kau mengawasinya dari udara. Cari di mana ia berada,” ujarnya yang langsung diiyakan oleh burung beo yang ikut berunding. “Hewan yang berbadan besar, gajah, kerbau, lembu, aku ingin kalian perlu ke hulu sungai,” lanjut kancil. “Kalian harus membendung air sungai itu. Gunakan batang-batang pohon pisang atau batang pohon apa pun yang bisa kalian temukan. Lebih lanjut dalam cerita kancil dan raksasa, burung beo mendapat tugas tambahan dari kancil. “Beo, kau perlu terus mengawasiku saat aku menemui raksasa nanti. Aku akan memberimu isyarat dengan menggaruk kepala, lalu kau bisa terbang ke hulu sungai,” terangnya. “Kau juga mesti memberi tahu seluruh hewan bahwa akan ada banjir besar. Suruh mereka pergi dari sana setelah gajah dan yang lain selesai membendung air,” imbuh hewan cerdik tersebut. Baca juga Dongeng Anak-Anak, Kisah Bunga Mawar Merah yang Sombong Beserta Ulasan Lengkapnya Pertemuan Kancil dan Sang Raksasa Usai menyepakati rencana kancil, para hewan langsung menjalankan perintah. Mereka saling bekerja sama membangun bendungan, sementara hewan-hewan kecil yang lemah telah terlebih dulu menjauh dari hutan. Kancil pun menemui raksasa. Makhluk itu terkejut melihat kancil yang datang tiba-tiba. “Wahai tuanku raksasa yang gagah perkasa,” ujarnya tanpa rasa takut akan dimangsa. “Berani sekali kau datang kemari? Untung aku masih kenyang, aku tidak akan memangsamu sekarang,” kata raksasa. “Kedatanganku ke sini karena ingin mengangkat tuanku menjadi raja, penguasa di hutan ini. Aku juga siap menjadi pelayanmu,” ucap kancil. “Benarkah itu?” Raksasa tidak percaya. “Menurutku tuan tidak cukup hanya makan daging dan buah-buahan saja. Tuan perlu minum banyak air yang terdapat di sungai karena di dalamnya mengandung banyak gizi,” jawab kancil. Tak butuh waktu lama, kancil berhasil menggiring raksasa ke sungai. Kancil dan raksasa bertengger lebih dulu di pohon besar yang daunnya rimbun sembari mengawasi ikan-ikan yang berenang di sana. Saat itulah kancil memberi isyarat pada burung beo. Baca juga Cerita Putri Serindang Bulan dan Ulasan Menariknya, Pelajaran tentang Menjaga Persaudaraan Kegagalan dari Rencana Pertama Air bah datang lantaran batang-batang pohon pisang tidak mampu membendung aliran sungai yang kuat. Sementara di tempatnya mengawasi ikan-ikan, raksasa yang sudah lapar jadi tidak tahan dan langsung menggunakan dahan pohon dengan daunnya untuk memancing. Banyak ikan yang tersangkut di sana. Raksasa juga bukannya tenggelam terkena air bah, malah senang karena mendapatkan makanan. Rencana kancil gagal. Mau tak mau, ia mengikuti raksasa ke tepi sungai dan ikut menyantap ikan-ikan tadi. Beberapa saat kemudian, kancil kembali menemui hewan-hewan lain. Rupanya, mereka marah besar karena mengira kancil hanya mengelabui mereka. “Bagaimana ini, Cil? Kau malah bersenang-senang dan makan bersama makhluk buas itu!” Kancil meminta maaf dan menuturkan kalau ia punya rencana kedua. Ia meyakinkan para binatang bahwa kali ini rencananya berhasil, dan raksasa itu pasti dapat dikalahkan. Baca juga Kisah Ular Ndaung Si Penjaga Bara Gaib dari Bengkulu Tewas Terikat di Atas Pohon Sumber Facebook – Pada Zaman Dahulu Keesokan harinya, kancil kembali menemui raksasa. Ia mengatakan pada makhluk buas itu untuk bersiap-siap karena akan ada bencana banjir besar, agar raksasa bisa segera menyelamatkan diri. “Hari ini akan datang banjir besar seperti pada zaman Nabi Nuh. Kita harus berlindung ke tempat yang tinggi agar tidak tenggelam atau terbawa arus,” tutur kancil. Raksasa pun percaya karena sebelumnya kancil sudah membuktikan kesetiaannya. Kancil lantas mengutarakan idenya. Ia mengusulkan kepada raksasa supaya mereka berdua diikat di atas pohon besar dan tinggi. Kancil pun meminta bantuan para monyet untuk melakukannya. Bodohnya, raksasa meminta agar tubuhnya diikat dengan kuat sehingga tidak terjatuh seandainya dahan pohon bergoyang karena tersapu banjir. Para monyet tentu saja mengiyakan dan segera mengikat raksasa itu. Sesaat kemudian hujan turun. Raksasa tidak panik karena merasa dirinya sudah aman. Akan tetapi, tak lama kemudian ia tertidur lelap. Hal itu dimanfaatkan oleh kancil untuk segera melepaskan ikatan di tubuhnya dan kabur. Begitu tersadar dan mendapati langit cerah, raksasa tahu dirinya telah ditipu. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi tidak berhasil karena ikatan pada tubuhnya terlalu kuat. Setelah berhari-hari terikat, ia pun tewas. Baca juga Kisah Roro Jonggrang dan Candi Prambanan Beserta Ulasannya Unsur Intrinsik 1. Tema Dilihat dari cerita di atas, kisah kancil dan raksasa ini mengusung tema kecerdikan yang dimanfaatkan untuk menolong sesama. Seperti yang dilakukan kancil, ia melakukan tipu daya untuk membantu hewan-hewan yang tinggal di hutan. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh yang ditonjolkan karakternya dalam kisah tersebut, yaitu kancil dan raksasa. Kancil sosok yang cerdik dan mau menolong, sedangkan raksasa sangat buas, rakus, dan gegabah karena mudah saja percaya pada perkataan kancil. 3. Latar Latar tempat terjadinya cerita adalah di hutan. Adapun lokasi spesifik yang juga disinggung dalam kisah di atas, yakni tepi sungai dan pohon besar, tempat di mana raksasa hendak dicelakakan oleh para penghuni hutan lainnya. 4. Alur Dari jalan cerita yang kami paparkan, tampak jelas bahwa dongeng di atas menggunakan alur maju. Tidak ada kilas balik, dan kisahnya berjalan dari awal munculnya konflik di mana para hewan gelisah karena raksasa, klimaks saat kancil menemui raksasa, dan penyelesaian ketika raksasa diikat di atas pohon. 5. Pesan Moral Cerita fabel antara si kancil dan raksasa di atas menyimpan pesan moral yang mendalam. Salah satunya tentang kerja sama yang perlu dilakukan antar sesama, karena dengan bersatu, maka tidak ada persoalan yang tidak mungkin tak terselesaikan. Baca juga Kisah Asal-Usul Nyi Roro Kidul Penguasa Pantai Selatan Beserta Ulasannya yang Menarik untuk Dibaca Fakta Menarik di Balik Dongeng Kancil dan Raksasa 1. Tidak Hanya Dikenal di Indonesia Cerita fabel kancil dan raksasa tidak hanya dikenal di tanah air, tetapi juga di wilayah Malaysia. Hal ini tampak dari dirilisnya serial bertajuk Pada Zaman Dahulu oleh Les’ Copaque, yang berisi fabel-fabel menarik mengenai hewan. Di serial tersebut, dongeng yang diceritakan sedikit berbeda versinya. Namun, pada intinya sama, yaitu mengenai usaha para binatang untuk melenyapkan raksasa rakus yang kerap memangsa rekan maupun kerabat mereka yang tinggal di hutan. Baca juga Legenda Ki Ageng Mangir dari Yogyakarta dan Ulasan Menariknya Suka dengan Fabel Kancil dan Raksasa Ini? Itulah tadi kisah lengkap mengenai kancil dan raksasa yang perlu kamu tahu. Kiranya, setelah membaca dongeng tersebut, kamu dapat mengambil pelajaran bahwa setiap makhluk perlu saling tolong menolong demi kelangsungan hidup mereka. Apabila fabel ini menginspirasimu, jangan lupa bagikan kepada orang-orang terdekat agar mereka ikut membaca. Siapa tahu dengan begitu, mereka juga mendapatkan pengetahuan dan pelajaran penting seperti yang kamu peroleh. PenulisArintha AyuArintha Ayu Widyaningrum adalah alumni Sastra Indonesia UNS sekaligus seorang penulis artikel nonfiksi yang juga punya banyak jam terbang menulis fiksi, seperti cerpen dan puisi. Terkadang terobsesi menulis skrip untuk film atau sinema televisi. Punya hobi jalan-jalan di dalam maupun luar negeri. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar. Dunia fabel selalu dipenuhi dengan berbagai satwa yang unik, masing-masing dari mereka juga memiliki karakter yang berbeda dan menarik. Dari banyaknya hewan yang muncul, ada satu hewan yang sering sekali dikisahkan di dalam berbagai cerita fabel, itulah kancil. Melalui berbagai cerita, tokoh Kancil selalu berhasil mengajarkan banyak nilai moral positif bagi si Kecil. Meski berbadan kecil, kancil merupakan hewan yang sangat cerdik. Ia selalu berhasil mengatasi masalah dengan memanfaatkan kepintarannya. Selain Kancil, ada juga tokoh Gajah. Berbeda dengan Kancil, Gajah merupakan hewan yang dikenal karena ukuran tubuhnya yang amat besar. Walaupun begitu, Gajah tidak sepintar dan secerdik apa ya yang akan terjadi jika kancil dipertemukan dengan gajah? Apakah kancil berhasil menggunakan kecerdikannya menghadapi gajah? Daripada penasaran, simak yuk dongeng Kancil dan Gajah di Jangan lupa, ajak si Kecil untuk mengutip nilai moral dari cerita Suatu pagi, Kancil berjalan-jalan dan langitu tiba-tiba suatu pagi itu, si Kancil berjalan-jalan dalam hutan seperti biasanya. Ia sesekali berhenti memakan rumput-rumput hijau yang dilewatinya sepanjang perjalanan. Kancil sendiri merupakan binatang yang terkenal gesit dan lincah, sehingga ia dapat bergerak dengan cepat. Belum lama Kancil berkeliling hutan, tiba-tiba langit mendadak gelap gulita. Langit terlihat sangat gelap, disertai angin kencang serta kilat juga halilintar mengubah langit terlihat lebih suram. Kancil pun segera menyadari hal tersebut. "Wah! Sepertinya akan terjadi badai, aku harus segera pulang," kata Kancil dalam hati. Kancil segera berlari dengan kencang. Untung saja ia gesit dan lincah, sehingga Kancil dapat melompati semak, batu, juga ranting pohon yang menghalangi jalannya. Namun ketika Kancil melompati sebuah ranting pohon yang melintang, ia terperosok ke dalam sebuah lubang. "Grussaaakk!" terdengar suara tubuh si Kancil terperosok dan terjatuh ke dalam lubang dengan Picks2. Kancil terjatuh, kebetulan gajah lewat dan si Kancil terjatuh dalam sebuah lubang jebakan, mungkin itu perangkap yang dibuat para pemburu untuk menangkap hewan buruannya. Melihat situasi yang ia hadapi, Kancil tidak kehabisan akal. Dengan susah payah Kancil berusaha keluar, tapi sayang sekali ia tidak berhasil. Lubang tersebut sebenarnya terlalu dalam untuk tubuh Kancil yang kerdil. Setelah mengerahkan semua tenaga dan akalnya, akhirnya si kancil menyerah karena kelelahan. Ketika si Kancil sedang beristirahat, Gajah datang dan menengok dalam lubang. "Wah wah wah, kasian betul! Si Kancil yang terkenal banyak akal dan pandai menghindar kini terlihat tak berdaya terjebak dalam lubang. Hahaha..." kata Gajah dengan nada Ide cerdik Kancil mengelabui awalnya geram mendengar ejekan Gajah. Namun tidak lama ia memiliki ide untuk membalas tingkah buruk Gajah. "Siapa yang bilang aku terjebak?" Kancil membalas perkataan Gajah. "Kamu ini, masih mau berkelit rupanya. Sudah jelas-jelas kamu terjebak dalam lubang dan tak bisa keluar kan? Kasian sekali kamu ini Cil!" ucap Gajah sembari tetap mengejek Kancil. "Gajah, sebenarnya aku yang harusnya kasihan sama kamu," kata si Kancil mulai membuat muslihat. "Kasihan padaku? Memang aku kenapa? Aku baik-baik saja,".jawab Gajah heran. "Begini, sebenarnya ini kabar rahasia yang hanya diketahui oleh hewan-hewan terpilih saja," sambung Kancil."Kabar rahasia apa maksud mu cil? Kau mau mencoba menipuku kan?" Gajah mulai bimbang. "Kamu mau percaya atau tidak, itu terserah kamu. Tapi karena aku masih menganggapmu sebagai sahabat, dengan suka rela aku akan memberitahukan rahasia ini pada mu," kata Kancil berlagak cuek. "Begini, apa kamu tahu? Bahwa sebenarnya hari ini langit akan runtuh lho! Makanya aku bersembunyi di lubang ini," kata Kancil. "Hah? Langit akan runtuh? Jangan bercanda kamu Cil!" jawab Gajah kaget. "Ssstttt... Jangan keras-keras! Nanti ada yang mendengarnya. Coba kamu lihat langit itu. Sepertinya sebentar lagi sudah akan runtuh. Kalau kau ingin selamat juga, cepat masuk ke lubang ini bersamaku! Lubang ini masih muat kalau cuma untuk kita berdua," bujuk si pun segera melihat ke arah langit, terlihat awan hitam yang bergumpal-gumpal dan kilat yang menyambar-nyambar. "Mungkin benar kata Kancil, langit benar-benar akan runtuh," pikir Gajah dengan wajah pucat karena ketakutan. Tanpa fikir panjang, Gajah pun langsung melompat ke dalam lubang bersama si Gajah pun akhirnya masuk ke dalam lubang, termakan ucapan dalam lubang, Gajah menggigil ketakutan, ia menutup mata dengan kedua telinganya yang lebar. Kancil hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Gajah yang badannya besar namun otaknya kecil hingga mudah beberapa lama menunggu dalam lubang, langit yang tadinya gelap kembali terang. Ternyata hujan badai tak jadi turun. Melihat situasi yang aman, Kancil pun memanggil Gajah. "Hai Gajah, bolehkah aku naik ke punggungmu agar aku bisa keluar untuk memantau situasi apakah langitnya jadi runtuh hari ini atau tidak? Nanti jika keadaanya aman, aku akan memberitahu mu," kata Kancil. "Terserah kau saja Cil, aku tak mau ke atas. Aku merasa lebih aman di sini," jawab Gajah sembari tetap menutup mata dengan telinganya. Tanpa menunggu aba-aba, Kancil pun langsung melompat ke punggung gajah lalu meloncat keluar dari lubang. Kancil merasa lega akhirnya ia bisa keluar dari lubang itu. Tidak lupa, ia pun kembali berteriak pada Gajah. "Hai Gajah, ternyata langitnya tak jadi runtuh hari ini. Kau boleh keluar sekarang. Di luar sudah aman!".teriak Kancil. Mendengar teriakan Kancil, Gajah pun mulai membuka mata dan melihat langit yang kembali cerah. Setelah yakin situasi memang aman, Gajah pun segera keluar. Dengan tubuhnya yang tinggi dan besar, bukan hal sulit baginya untuk keluar dari lubang itu. Setelah melihat Gajah berhasil keluar dari lubang, Kancil pun lalu pergi meneruskan perjalanannya. Sepanjang jalan, Kancil tertawa sendiri karena geli dengan Gajah yang dengan mudah bisa ia Pesan Moral Cerita Fabel Gajah tetap kalah ya oleh kecerdikan si Kancil. Meski ia bertubuh besar, namun itu tidak ada apa-apanya jika ia tidak menggunakan kecerdasannya. Itulah salah satu nilai yang dapat anak ambil dari cerita fabel ini. Ketika berhadapan dengan masalah atau orang lain, ada baiknya si Kecil selalu menggunakan kecerdikannya. Agar ia tidak mudah tertipu atau dibohongi oleh orang lain. Mengatasi masalah dengan cerdas dapat membuat masalah tidak terasa berat, malah terasa ringan dan mudah Kecil juga bisa belajar dari sikap Kancil yang tidak membalas ejekan Gajah dengan amarah dan emosi. Membalas ucapan buruk dengan ucapan buruk lainnya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Ketika dihina dan direndahkan, sebaiknya kita tidak perlu terpancing atau menghiraukan ucapan tersebut. Itu dia kisah dongeng Kancil dan GajahYuk belajar menyontoh sikap Kancil yang dapat memanfaatkan kecerdikannya untuk mengatasi masalah dengan baik!Baca jugaDongeng Fabel Anak Kancil dan TikusDongeng Fabel Anak Si Kancil Mencuri TimunDongeng Anak Si Kancil dan Siput, Simak Pelajaran dari Ceritanya Cerita atau dongeng fabel tentang si kancil dan buaya merupakan salah satu dongeng anak yang cukup populer, nah oleh sebab itu banyak macam dan ragam alur ceritanya yang dongeng yang mengisahkan tentang si kancil yang ingin menyeberangi sungai untuk mengambil ketimun ini misalnya yang kemudian bertemu dengan buaya. Nah, langsung saja yuk disimak ceritanya dibawah hiji poe aya si kancil, sato nu dianggap pinteur eta teh keur lelempangan disisi leuweung. Manehna keur neangan walungan kusab cuaca poe ayena teh panas kacidaan, si kancil neangan cai keur nginum kusabab ngarasa lila kaparengan disisi leweung teh manehna nempo aya walungan anu caina rada kiruh. Sikancil nyampeurkeun sarta nginum caina eta, sanggeus si kancil nginum aya anu nyuara dina jero beuteung na."kruuuk…kruuuuuk…kruuuuuk."Wah, rupana si kancil ayena tos mulai kalaparan. Si kancil ngabayangkeun nikmatna lamun aya kadaharan kabekina nyaeta bonteng. Nanging kebon bonteng eta aya di peuntas walungan. "Kumaha cara menyeberangna nya kuring teh?" Ceuk si kancil bari mikiran carana kungsi lila si kancil boga ide, bari ajol-ajolan si kancil kegirangan terus bari ngajorowok “Hey.. Buaya….buaya…. hayu buru keluaaaaar….. Kuring boga kadaharan jang maraneh!!” Ceuk si kancil ka buaya-buaya anu kabeneran loba cicing di walungan eta deui si kancil ngageroan “Buaya…buaya… buru keluar… hoyong daging seger henteeeuu?” Teu lami saterusna, aya hiji buaya kaluar ti dina jero cai, “Bruaaar… saha anu gogorowok gandeng beurang-beurang kieu.. ngaganggu kuring sare bae.”Buaaaarr.. Pamingpin buaya datang “Heh kancil.. cicing maneh.. lamun henteu cicing, ku urang da'ang maneh.” Ceuk buaya kadua anu kaluar barengan.“Wah…. Alus maraneh kaluar euy, mana deui buaya anu laina?” Tembal si kancil saterusna. “Lamun maneh ngan dua'an, sesa kadaangana bakal moal beak, jadi buru geura kaluar kabeh." Ceuk si kancil bari jojorowok deui.“Aya naon kancil sabenerna ieu, hayu geura omongkeun, ”ceuk si buaya teh. "Kieu yeh buaya, hapunten lamun kuring ngaganggu sare maneh, soalna kuring rek babagi daging seger pikeun maraneh nu aya di walungan ieu, ku kituna buru geura kaluarkeun sakabeh baturan maneh jang ngabeakeun kabeh daging-daging seger ieu."Ngadenge arek dibagikeun daging seger, teu kungsi lila, eta buaya geura-giru ngageroan babaturana supaya kaluar kabeh. “Hey, babaturan kabeh, aya daging gratis yeuh! Hayu urang keluaaaar….!” Ceuk pamingpin buaya mikeun komando nu tegas kanu buaya sabaraha lami, tos mulai kalaluar eta buaya-buaya tina jero cai teh. “Nah, ayeuna kuring kedah ngitung tiheula aya sabaraha buaya-buaya anu hadir teh, hayu maraneh para buaya geura ngajajar hela teupi kasisi walungan palih ditu tuh, engke kuring itung hiji-hiji.” Ceuk si kancil bari rada serius mikir panjang, si buaya-buaya eta geura-giru nyokot posisi masing-masing, buaya-buaya mulai ngajajar tepi kasisi walungan seberang, nyieun sapertos jembatan.“Oke, ayeuna kuring langsung mulai ngitung nya? ” ceuk si kancil, bari mulai ngajolan ka tonggong buaya, “Hijiii….. duaaaa….. tiluuu…..” Sabari terus ngajolan tonggong buaya anu hiji ka buaya lainna. Dugi ahirna si kancil nepi di peuntas walungan. Bari ngomong dina jero hatena “gampang geuningan euy.”Dugi di peuntas walungan, si kancil ngomong ka buaya-buaya “Hey buaya-buaya, sabenerna teh teu aya daging seger anu rek kuring bagikeun, kan ges katempo kuring teh teu mawa nanaon.” Kuring mah ngan saukur hayang meuntas walungan hungkul weh da kuring ge lapar euy." Ceuk si kancil teh bari buaya anu aya didinya atuh meren kesel kabeh kusabab ngarasa ditipu si kancil. “Haaaaaaaaahh… awas maneh kancil mun kapanggih deui.. Beak maneh..!!" Teu mikir panjang, si kanci geura lumpat ngiles asup kajero tatangkalan nuju kebon pa tani kaur ngala bonteng nu jadi demikian akhir cerita dari dongeng sikancil basa sundanya, dalam cerita dongeng kali ini tentu saja sikap si kancil ini tidak layak untuk di tiru meskipun dia pintar, karna berbohong merupakan perbuatan yang sangat tidak baik!

cerita fabel kancil dan singa